Kesempatan, Pilihan dan Kesetiaan

Kesempatan, Pilihan dan Kesetiaan

Sejak lama orang2 disekitarku sering bertanya “kenapa gak sekolah lagi?” dan dulu selalu aku jawab “tidak berminat” hehehe….. 😛 Namun tiba2 beberapa bulan lalu semua berubah ketika aku dapat telepon dari seorang teman di kantor pusat, katanya, “selamat mbak, namanya masuk di daftar prioritas untuk beasiswa tahun ini, emailnya segera dikirim” gubrakkk…… seneng? iya….. bangga?….pasti….. mumet? Udah jelas….. Kata “tak berminat” tak lagi berarti. Kesempatan itu dengan mudahnya menghampiriku ketika sebagian temen2 harus berjibaku mendapatkannya.

Setelah melalui perbicangan, perenungan dan perang batin akhirnya aku memutuskan tidak mengirimkan aplikasi apapun berhubungan dengan hal itu, dan hanya mengatakan “maaf, saya tidak akan mengambil kesempatan itu” kepada seseorang. (itupun lewat chat room). Hehehehe…. 🙂

Menurutku untuk saat ini : Sekolah lagi adalah KESEMPATAN, Menjadi Istri dan Ibu adalah PILIHAN, KESETIAAN adalah konsekuensi terhadap pilihan kita.

Beberapa teman sepertinya  cukup mengerti dengan keputusanku. Tapi beberapa hari lalu seseorang menggelitikku dengan kata-katanya “cerita dong, mbak…..” (eny…….gara2 lu nih….. 😛 )

Buat eny tersayang…. gini lho ceritanya…. (sbenernya ini adalah suratku buat seorang Dwi, beberapa bulan lalu….. hahaha……)

 

Ketika kita memutuskan untuk menikah, kemudian punya anak sebenernya sejak itu kita musti menata ulang rencana kita ke depan, saat itu kita hrs sdh memasukkan faktor suami dan anak2.tmsk memutuskan untuk sekolah.Tugas istri sudah jelas aturannya (sebagian orang bilang aku kolot n gak modern) padahal sekarang ajamasih sering ninggal2in kewajiban 🙂 (jadi malu…….)
Aku harusnya bersyukur punya suami yg masih membolehkan aku nyambi kerja.Tawaran ‘sekolah lagi’ bolak balik datangdan tak pernah sekalipun aku mendaftar, hingga suatu ketika atasanku waktu itu (di Jambi) nanya dan aku jawab ini masalah prinsip.

Pertama, aku mau suami-ku duluyang maju. (ini jg dikomentari seorang temenku, katanya aku perempuan tempo dulu) buatku ini prinsip berumah tangga. Berumah tangga itu seperti berjalan. Ketika satu kaki di depan, kaki yang lain akan mendukungnya di belakang. Tidak berada di depan keduanya karena itu bukan berjalan, tetapi melompat. Melompat akan membuat kita lebih mudah jatuh.

Kedua, sekolah cuma bisa dituker sama kerja (karir), tapi ‘tidak’ dengan anak2. Anak tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. kemudian orang bilang,“anggep aja kaya kerja, kan tiap hari jg ditinggal”. Menurutku tetep beda, kerja seperti sekarang akumasih bisa ijin dan cuti pada saat anak2 harus didampingi. Tapiseandainya aku sekolah, liburku belum tentu saat anak2 butuh, jangan2 anak2 butuh aku waktu aku sedang ujian, atau sedang banyak tugas…..
Temen2 yang sedang sekoah lagi dan pisah sama anak2, sering membuat status : sedih karena merasa bersalah tidak bisa ngajakin anak main, nangis2 karena anak sakit tapi gakbisa nemenin karena sedang ujian………dst…dst….
Buatku, ketika kita memutuskan memilih sesuatu siaplah dengan segala resikonya, jangan cengeng, dan jangan ingin dikasihani, harus konsekwen …. :-)dan aku tidak siap dengan resiko kalau aku sekolah sekarang, aku gak mau merasa bersalah sama anak2ku karena keputusan yang sengaja kubuat.
Anak itu tanggung jawab kita, seperti apa mereka kelak, tergantung bagaimana kita membentuknya saat mereka kecil. Beberapa teman pernah bilang, ‘mumpung masih kecil, nanti juga ngerti sendiri mn ibunya…..’ Memang anak akan tau mana ibunya.Tapi apa kita tau seperti apa perasaannya? Kita tak pernah tau seperti apa isi hati anak2, yang pasti dalam jiwa mereka ada yg hilang ….

Beberapa hari lalu, aku, aura (mbak ya) n prana (icang) ngobrol, aku nanya “boleh gak ibu sekolah lagi?
tau apa jawab mereka?

aura :”sekolah yang kaya bapak? buat apa? Ntar sudah sekolah ibu pasti kerja lagi….kerja lagi…..kalo mau sekolah, ibu itu sekolah masak aja. kan menjahit udah bisa….jadi mbak ya bisa bawa bekel masakan ibu tiap hari, biar mbak ya bisa critain ke temen2 masakan ibu enak

icang :” buat apa ibu kerja lagi, kalo mau dapat uang ibu bisa jualan pisang goreng di rumah

hehehe…….
jadi ternyata anak2ku pengennya kalo aku sekolah lagi tidak untuk ‘bekerja lebih’lagi …… 😛

Kali ini aku berusaha mendengarkan anak2ku, apalagi kalau ingat periode 2007-2009 (berarti aura berumur 3 tahun dan icang berumur 2 tahun). Mereka anak2ku yang ‘hebat’ karena untuk anak2 seumuran mereka saat itu sudah sangat ‘biasa’ aku tinggal2, hanya untuk alasan ‘dinas’. Hiks ….. 😥

Sebenernya prosesnya panjang banget untuk sampe ke titik ‘nrimo’ ini. Dulu sering banget perang batin antara kewajiban (sebagai perempuan, istri dan ibu) dengan yang namanya ‘ego’.

Tapi sekali lagi, itulah hidup, masih banyak harus belajar.
belajar untuk terus bersyukur meski sering merasa tak cukup
belajar untuk tetap ikhlas meski hati sering tak rela
belajar taat meski kadang berat
belajar lebih memahami meski kadang tak sehati
belajar selalu bersabar meski rasanya terbebani
dan belajar banyak hal lagi …..

Sekarang tinggal mencoba menikmati yang ada. kata orang tua, ngalir aja walaupun mungkin sepanjang yang dilalui akan banyak yg tertabrak….hehehe…. 😉

Pengennya bisa jadi pendamping yang ‘kuat’ buat suami, yang bisa menjadi teman dalam segala hal buatnya, pengen bisa jadi ibu yang ‘hebat’ buat anak2, yang bisa bikin anak2 bangga.

Mungkin sekarang aku ini lagi mencoba bermimpi……semoga di akhir cerita semua yang kulakukan bisa dipertanggungjawabkan.

hehehe….. 🙂

Iklan

18 thoughts on “Kesempatan, Pilihan dan Kesetiaan

  1. Ooo….begitu ceritanya. Jadi, yang saya tangkap ‘tiap sebab ada akibat, tiap pilihan ada konsekuensinya’. Jadi berpikir lebih banyak lagi nih, makasih, mbak susi….

  2. saluuuuttt banget sama mbak Susi, saya punya temen yang punya prinsip seperti mbak Susi ini dan saya tak habis2nya kagum padanya karena dedikasinya untuk keluarga kecilnya 🙂
    tidak semua perempuan bisa, belum tentu juga saya 🙂

  3. pengen nangis baca cerita ibu ini …inget ibu dirumah yg hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar bahkan tak lulus….

    mau sedih dulu deh,,,,

    • jgn lm2 sedihnya ya…. 🙂
      Ibu yg hebat tidak dilihat dari pendidikannya kok……. 🙂
      Ibu yg hebat hanya bisa dirasakan oleh anak2nya
      karena kasihnya,
      karena pengorbanannya,
      karena pengabdiannya,
      karena keikhlasannya
      dan karena….karena…… yang lain
      yang hanya dia lakukan untuk anak2nya tersayang
      🙂

  4. Subhanallah, salut mba.benar2 menyentuh hati, memang pilihan sulit tapi setiap pilihan pasti ada konsekuensix. Semoga apapun pilihan qta, itu yang terbaik juga dari ALLOH SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s