Lubang-lubang di Dinding

Cerita ini aku tulis karena Icang -ku sangat suka. Dia baca di buku yang dia dapat dari ibu gurunya. Entah mengapa, tapi aku yakin ada sesuatu yang dia maknai dari cerita ini.

Lubang-lubang di Dinding

Ini adalah kisah seorang anak yang sangat sulit mengendalikan emosinya dan sangat pemarah.

Suatu hari, ayahnya memberi sekantung paku dan sebuah palu. Dengan pesan, setiap kali dia marah, dia harus memasang paku di dinding kayu samping rumahnya.

Hari pertama, dia memasang 37 paku. Beberapa minggu kemudian jumlah paku yang dipasang mulai berkurang. Dia sudah bisa mengontrol emosinya, dan menyadari bahwa menahan amarahnya terasa lebih mudah daripada memasang paku di dinding.

Sampai suatu hari, dia tidak marah lagi. Ayahnya berpesan, setiap kali dia bisa menahan marah harus mencabut satu paku yang pernah dipasangnya. Sampai suatu hari akhirnya semua paku di dinding telah habis.

Anak itu memberi tahu ayahnya, dan ayahnya pun berkata, “Kamu sudah berusaha dan mampu mengendalikan emosimu dengan baik sekali. Tapi coba lihat lubang-lubang di dinding itu. Dinding itu tak lagi seperti semula. Pada saat kamu mengucapkan kata-kata dalam keadaan marah mereka meninggalkan luka persis seperti di dinding itu. Untuk menghapusnya, berapa ratus kali kamu akan meminta maaf ?”

dikutip dengan pengubahan dari buku : ‘Ketika Angin Bertiup sampai Lobang-lobang di Dinding’

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s