Temple Grandin

Beberapa minggu lalu sebuah film berjudul “Temple Grandin” tayang di HBO. Menontonnya membangkitkan sebuah rasa yang sangat hebat; kagum, terharu, dan yang pasti semakin yakin akan kebesaran Sang Pencipta. Agar kita senantiasa bersyukur akan segala nikmat-Nya.

Bagaimana tidak, Temple Grandin adalah penyandang sindrom Asperger (sejenis dengan spektrum autis) yang berhasil meraih gelar PhD jurusan Pengetahuan Binatang. Prestasi tersebut membuka harapan dan menjadi pencerahan bagi para penyandang autis dan gangguan perkembangan lainnya di seluruh dunia.

Sesudah nonton film itu, langsung deh…..berseluncur….. 🙂 cari info tentang tokoh yang satu ini.

Hasilnya……. Inilah sekilas kisah tentang Temple Grandin yang coba disarikan dari berbagai sumber antara lain Majalah anak Spesial dan Wikipedia.

Temple Grandin dikenal sebagai tokoh yang dihubungkan dengan “autisme”. Namanya pertama kali dikenal saat kisah hidupnya diangkat ke dalam sebuah buku berjudul ”An Anthropologist On Mars” yang ditulis oleh Oliver Sacks. Buku ini berisi gambaran Grandin mengenai perasaannya berada diantara orang-orang “neurotypical”.

Temple Grandin lahir di Boston, Massachusetts pada 29 Agustus  1947. Ketika berusia dua tahun, awalnya Grandin didiagnosa mengidap kerusakan otak. Oleh orangtuanya ia kemudian dimasukan ke sebuah kelompok bermain yang guru-gurunya ia anggap sangat baik. Dan pada tahun 1950 akhirnya dia didiagnosa mengidap autis.

Setelah berkonsultasi kepada seorang dokter, ibunya memberi Grandin terapi wicara dengan menyewa seorang pengasuh yang menghabiskan waktu berjam-jam bermain sambil belajar bersama Grandin dan kakaknya.
Dalam kisahnya, Grandin bercerita, “Tidak bisa berbicara sangat membuat saya frustasi. Jika seseorang dewasa berbicara langsung kepada saya, saya dapat memahami apa yang mereka katakan, tetapi saya tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang ingin saya ucapkan. Jika saya berada dalam situasi dengan tingkat stress yang sedikit, terkadang kata-kata tersebut akhirnya bisa keluar. Terapis wicara saya tahu bagaimana cara masuk kedalam dunia saya. Ia akan memegang dagu saya dan membuat saya menatap matanya dan kemudian berkata “bola.” Pada usia tiga tahun, saya bisa mengucapkan kata “bola” dan “bo’a” dengan tingkat stress tinggi.

Jika si terapis terlalu memaksa, saya akan mengamuk (tantrum), dan jika ia tidak mencoba masuk jauh kedalam diri saya, maka tidak akan ada perkembangan berarti yang bisa dicapai saat itu. Ibu dan guru saya bertanya-tanya kenapa saya berteriak. Berteriak adalah satu-satunya cara agar saya bisa berkomunikasi. Terkadang saya berpikir pada diri saya sendiri jika saya akan berteriak sekarang karena saya ingin memberitahu semua orang bahwa saya ingin melakukan sesuatu.”

Pada usia empat tahun, Grandin mulai bisa berbicara dan memperlihatkan adanya perkembangan. Grandin merasa beruntung karena saat itu ia mendapat banyak dukungan dari para pengajar di sekolahnya.

Untuk membantu perkembangan kondisinya, Grandin mengkonsumsi obat anti depresi secara teratur dan menggunakan “squeeze-box” (mesin peluk) yang diciptakannya sendiri pada usia 18 tahun sebagai bentuk terapi personal. Beberapa tahun kemudian, kondisinya itu dapat dikenali dan pada usia dewasa ia di diagnosa menyandang sindrom Asperger, yang sejenis dengan spektrum autis.

Pada tahun 1960-an Grandin menyelesaikan sekolahnya di Hampshire Country School di Rindge, New Hampshire, dan melanjutkan belajar ke universitas. Dia berhasil meraih gelar sarjana jurusan psikologi dari Franklin Pierce College pada tahun 1970, gelar master jurusan pengetahuan binatang dari Arizona State University pada tahun 1975, dan gelar doktor  atau PhD jurusan pengetahuan binatang dari University of Illinois di Urbana Champaign pada tahun 1989.

Bagi seorang penyandang autis, prestasinya itu tentulah sangat luar biasa.

Grandin membantu memberikan konsultasi dalam mengenali gejala autis sejak dini. Ia juga memberikan konsultasi kepada para guru sehingga dapat memberikan penanganan langsung kepada anak autis dengan cara yang lebih tepat. Grandin dianggap sebagai pemimpin filosofis bagi gerakan kesejahteraan binatang dan konsultasi autis.

Dengan pengalamannya sebagai penyandang autis serta aktifitasnya di berbagai gerakan kesejahteraan binatang dan konsultasi autis sangat berkaitan dengan karya-karya tulisnya yang bertemakan kesejahteraan binatang, neurologi, dan filosofi.

Pada tahun 2004, ia meraih penghargaan “proggy” untuk kategori “Visionary” dari People for the Ethical Treatment of Animals. Beberapa karya Temple Grnadin antara lain, ”Journal of Autism and Developmental Disorders” dan “Emergence: Labelled Autistic.”

Karya-karyanya mengenai autisme yang ditulisnya dari sudut pandang penyandang autis, sangat membantu para ahli dan dunia kedokteran dalam membantu penanganan autis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s