mau nulis lagi aaahhh

​Hari kamis tanggal 11 Agustus 2016,  kali kedua Aura di-mentor-i seorang novelis yang biasa disebut Bunda Mei. Kali ini dalam rangka persiapan penulisan cerpen yang disponsori oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Jambi. 

Siapa sih Bunda Mei ini? 

Meiliana K. Tansri atau anak2 sering memanggil Bunda Mei adalah seorang penulis dari Jambi. Beberapa novelnya sudah diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Diantaranya adalah  “Trilogi Darah Emas”. 

koleksi aura&prana

Ada 3 novel dalam Trilogi ini, yaitu Mempelai Naga, Gadis Buta dan Tiga Ekor Tikus serta Sembrani. Ketiganya mengambil seting di daerah Kemingking, Kumpeh, Jambi. 

Ceritanya keren, nanti kapan2 resensinya dimunculkan deh….. 

Tapi yg gak kalah keren itu ketiga novel koleksi di rumah ditandatangani hehehe… 

koleksi aura&prana

harta karun

​Hari minggu pengennya berleha-leha, tp pasti gak tega. Ujung2nya ambil senjata, menyingsingkan lengan baju trus bertempur habis2an alias ringkes2, beberes ngumpulin harta karun.

Tiap nemu yg antik pasti galau,  antara tetep disimpan, masuk kotak untuk didonasikan atau masuk tempat sampah. 

Salah satu harta yg bikin galau ya ini nih, koleksi majalah lama, jaman lg demen berburu bacaan yg isinya nyangkut2 ngurusin bayi.

Kira2 ada yg minat “ngadopsi” sebagian koleksi majalah lama ini gak ya?

Tahun terbitnya macem2 ada yg 2003, 2004, 2006, 2009 dan 2011. Biarpun kesannya jadul,  tapi isinya gak ketinggalan jaman. 
Jujur,  masih galau sama tiga majalah Inspired Kids itu. Soalnya sebenernya penuh kenangan, majalah itu dapet gretongan. Salah satu hadiah waktu aura dpt penghargaan “consolation” di acara national art competition dulu 😁. Emaknya dapet voucher langganan tu majalah. 

Harta karun yg lain, ada majalah anak2 terbit kisaran tahun 2009 sampai 2013. Tapi kalau yg ini sudah ada peminat ya. Tinggal diantar saja………. 

catatan dari pantai Kayu Bura #late post

Nomor undian 4 pada festival hari kedua (23 april 2016),  sore hari yg cukup panas di Pantai Kayu Bura Parigi Moutong Sulawesi Tengah.

Harus berbagi panggung dengan kontingen lain tidak menyurutkan semangat anak2 Jambi tampil memberikan yang terbaik,  musik tradisional Jambi berjudul “krinok dagang menumpang” dgn penata musik Zamzami Akbar,  anak muda Jambi,  mahasiswa jurusan seni.

Memang belum bisa mempersembahkan penghargaan untuk kampung halaman, tapi sangat banyak pengalaman dan pelajaran yang dibawa pulang,  membuka mata dan telinga bahwa ada banyak hal hebat di luar sana.

Mengutip pesan pengamat yang hadir saat itu (Purwacaraka,  Embi C Noor dkk) : bermusik bukan sekedar festival dan lomba,  bukan sekedar penghargaan dan juara,  tetapi seharusnya adalah sebuah proses kreatifitas yg terus menerus tiada henti, terlebih musik tradisi.

Semoga menjadi catatan kecil yg cukup berarti.

image

puding-puding di kulkas

Sore-sore pada sibuk nyari ‘kunyahan’, akhirnya buka lemari, buka kulkas….dan….ini dia yang ketemu : 😆

1 bungkus agar-agar tanpa warna
1 kaleng susu kental manis putih
Sirup rasa jeruk

Pikir-pikir, enak juga kalau dibikin puding…
Agar-agar dan susu dicampur dengan 800 ml air, diaduk sampai benar-benar tercampur rata.
Masak dengan api kecil, sampai mendidih.
Habis itu tuang ke dalam cetakan, sesuai selera. Mau yang besar atau yang kecil-kecil.
Diamkan sampai sebagian mengental. Maksudnya permukaannya sudah mengental tetapi bagian bawah masih agak cair. :mrgreen:
Siram sirup rasa jeruk sesuai selera, sampai permukaan puding seperti berlapis orange.
Masukkan ke dalam kulkas. 🙂
Dan….jadi dehhhh…. ‘Puding Orange’ siap dinikmati… Hmmm…. Yummiii…

w a k t u

Masih banyak yang belum diselesaikan
Masih banyak yang belum dilakukan
Masih banyak yang terlupa
Masih banyak yang tertunda

Kita pikir masih ada nanti
Kita pikir masih ada besok
Kita pikir masih ada lusa
Kita pikir masih ada waktu

Padahal, tak tahu apa yang terjadi nanti
Padahal, tak tahu apa yang terjadi besok
Padahal, tak tahu apa yang terjadi lusa
Padahal, waktu yang kita punya tak sebanyak yang kita kira

ikan lambak

Banyak sekali jenis ikan sungai yang ada di Jambi. Salah satunya ikan lambak. Bentuknya kecil-kecil seperti anakan ikan mas (ikan balita kalau di Bogor), tapi bedanya ikan ini memang tidak bisa lebih besar lagi.
Ikan lambak sendiri banyak sekali macamnya.
Ada lagi ikan yang sangat mirip dengan ikan lambak namanya ikan saluang. Kedua jenis ikan ini sangat mirip *aku sendiri tak bisa mbedain*
Kesamaan ikan lambak dan saluang hanya satu yaitu sama-sama enak dimasak apa saja.
Biasanya kedua ikan jenis ini dimasak menjadi aneka masakan khas antara lain : cuma digoreng, dibalado, disambal dengan cabe ijo, dan yang paling seru adalah dipepes dengan bumbu tempoyak (asam durian) hmmm nikmatnya…..
Ada yang mau coba ?